Agama dan Filsafat
Agama dan Filsafat, mungkinkah kedua hal ini mampu berjalan bersama atau bahkan keduanya malah saling bertentangan? Memang kedua hali ini telah menjadi topik panas yang telah lama diperbincangkan. Memang menarik jika membahas hubungan diantara kedua hal tersebut. Saya tertarik untuk mencoba membahas seberepa kuatkah peran agama bagi manusia dan bagaimana manusia menerima agama secara rasional. Dalam tulisan saya kali ini, saya akan membahas hubungan antara agama dan filsafat, dan bagaimana dan mengapa kita harus percaya pada tuhan.
Hubungan antara agama dan filsafat
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama adalah ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Dari definisi tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa di dalam agama terdapat peraturan yang mengatur manusia dalam bertingkah laku terhadap sesama, alam sekitar dan lingkungan serta hubungan manusia tersebut dengan tuhannya (ibadah). Sebelum saya memaparkan hubungan antara agama dan filsafat, saya akan memaparkan definisi dari Filsafat terlebih dahulu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. Dalam definisi tersebut, saya ingin menggaris bawahi kata – kata pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai segala yang ada. Saya tertarik dengan kata – kata tersebut, disini kita mampu melihat hubungan antara filsafat dan agama. Dengan ilmu filsafat, seorang yang kita tahu kedudukannya sebagai mahluk paling mulia karena memiliki akal fikiran akan menggunakan akalnya tersebut untuk berfikir secara logis mengenai aturan maupun keimanan yang ada di dalam agama.
Namun, tidak semudah itu untuk menggunakan ilmu filsafat untuk menerima ajaran maupun aturan yang ada di dalam agama. Ada hal – hal tertentu yang saling bertentangan diantara keduanya. Lalu, mungkinkah agama dan filsafat bisa bersatu? Kita semua tahu bahwa dari definisi saja, agama dan filsafat memiliki hal yang bertentangan. Dalam agama, manusia menerima aturan – aturan yang ada dalam agama tersebut dan diwajibkan menaati setiap peraturan serta menjauhi hal – hal yang dilarang dalam agama untuk mencapai sebuah kehiupan abadi(surga). Sedangkan dalam filsafat, manusia akan berfikir kritis mengenai hal – hal yang ada secara rasional. Jika menururt ilmu filsafat setiap hal yang ada di dunia ini harus bisa diterima secara rasional dan logis, maka ada beberapa hal di dalam agama yang tidak bisa diterima secara rasional. Salah satunya adalah iman. Sebagai contoh, di dalam agama islam ada satu peristiwa yang disebut dengan isra’ mi’raj dan setiap muslim wajib mengimaninya. Peristiwa itu adalah suatu peristiwa dimana nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari masjidil haram di Mekah menuju masjidil aqsa di Madinah selama satu malam untuk menerima wahyu dari Allah SWT yang berupa perintah untuk melakukan sholat lima waktu. Bila difikir secara logis, hal ini memang sulit untuk diterima oleh akal. Bagaimana bisa hanya dalam waktu semalam nabi Muhammad mampu menempuh jarak sebegitu jauhnya. Bayangkan, pada zaman nabi dahulu, tidak ada kendaraan apapun yang bisa menempuh jarak antar kota mekah menuju madinah selama satu malam. Memang sungguh tidak rasional bila peristiwa ini bisa untuk diterima oleh akal manusia. Maka dari itulah, agama mengajarkan tentang iman. Dimana akal tak mampu berfikir dan menerima hal – hal yang memang diluar kepala manusia dan melalui imanlah manusia akan mampu menerimanya. Jika melihat contoh tersebut, maka memang tidak masuk akal dan mungkin ilmu filsafat tidak akan menerimanya karena peristiwa tersebut tidaklah rasional. Lalu, mungkinkah agama dan filsafat bisa bersatu? Dan jawabannya adalah bisa, tergantung cara pandangn untuk melihat kedua hal tersebut. Secara raionalis, ada seorang filosofis yang bernama Rene Descrates yang mengungkapkan statement bahwa ‘aku berfikir maka aku ada’. Ketika seseorang itu berfikir, maka dia akan memikirkan hal – hal bagaimana dia bisa hidup di dunia. Dibalik itu semua pasti ada suatu kekuatan besar yang mampu menciptakannya untuk ada. Secara mistik, ada seorang tokoh filsafat yang bernama Ibnu Arabi yang mengatakan kurang lebih seperti ini, Ada banyak jalan menuju tuhan. Kebenaran itu tunggal, hanya cara melihat kebenaran itu sendirilah yang berbeda-beda. Secara eksistensialis, mereka yang menganut pemikiran eksistensialis(keberadaan) bahwa dimana ada kekuatan maha dahsyat yang lebih besar dari kekuatan manusia. Kekaguman sekaligus rasa takut yang muncul akan sesuatu yg maha dahsyat yg tidak terfikirkan oleh manusia (kuasa tuhan). Secara tidak langsung, ketiga cara pandang diatas memaparkan bahwa diantara agama dan filsafat ada benang merah yang membuat mereka bisa berjalan bersama. Agama adalah sebuah kepercayaan, manusia membutuhkan akal untuk berfikir bagaimana dia mempercayai agama. Memang tidak semua hal di dalam agama bisa diterima oleh akal (Imanlah yang bisa menerimanya). Namun, tidak semua hal di dunia ini terjadi secara logis dan rasional. Terdapat banyak hal di dunia ini yang tidak bisa terpecahkan oleh akal, dan itu semakin meyakinkan bahwa ada kekuatan besar (Tuhan) dibalik itu semua.
Siapakah tuhan? Mengapa tuhan ada? Apakah kita membutuhkan tuhan? Adakah orang yang pernah melihat tuhan? Itulah beberapa pertanyaan yang muncul ketika kita berbicara mengenai tuhan dari sudut pandang orang ateis. Kebanyakan dari orang ateis terlalu memikirkan dan merenungkan tentang kejadian – kejadian yang terjadi di dunia secara logis. Mereka tidak mau menerima hal – hal luar biasa yang tidak bisa diterima oleh akal. Mereka menganggap hal – hal semacam itu sebagai kejadian alam atau proses perubahan alam semesta yang terjadi secara alamiah bukan karena kekuatan dari Tuhan. Saya sendiri sebagai seorang yang beragama memang sangat tidak setuju dengan cara pandang mereka mengenai keberadaan tuhan. Meskipun tidak bisa saya pungkiri bahwa benar adanya bila kita harus mempercayai hal – hal yang logis. Namun, akal yang dimiliki manusia ada batasannya. Ada masa dimana ketika akal tidak mampu menjawab tentang kejadian – kejadian yang berada di luar jangkauan fikiran manusia. Dari situlah saya menyadari dan meyakini bahwa terdapat sesuatu yang memiliki kekuatan yang maha dahsyat sehingga semua ini bisa tercipta. Dan disitulah akal saya mulai berfikir dan memahami bahwa memang semua yang ada di alam semesta ini tidak terjadi secara begitu saja (alamiah), ada Tuhan dibalik itu semua. Ada tuhan yang mengatur dan menciptakan semuanya, ada kekuatan maha dahsyat yang tidak terkalahkan oleh apapun.
Banyak ilmuwan yang memaparkan berbagai teori tentang asal mula kehidupan. Namun, kebanyakan dari teori tersebut masih memiliki kelemahan di beberapa bagian. Seperti teori sebab akibat terjadinya alam semesta. Di dalam teori ini, kurang lebih para ilmuwan memaparkan bahwa alam semesta berasal dari sebuah benda, secara alamiah benda tersebut meledak (proses alam) dan terciptalah alam semesta (bumi, bintang, planet, matahari dsb). Mungkin memamg masuk akal bila sebuah benda bisa meledak dan terciptalah benda – benda lain yang berasal dari pecahan benda tersebut. Namun, yang saya pertanyakan disini adalah asal mula benda utama yang bisa meledak dan terciptalah alam semesta dan isinya tersebut. Dari manakah benda tersebut berasal? Apakah memang sudah ada dan harus ada untuk memulai semua kehidupan? Tidak logis bukan bila difikir secara rasional menegnai asal mula benda tersebut. Disitulah letak kekurangan teori sebab akibat yang dipaparkan oleh para ilmuwan. Dan dari sinilah kepercayaan saya akan adanya sang pencipta (Tuhan) semakin meningkat bahwa memang ada kekuatan luar biasa yang memang terkadang tidak bisa ditangkap oleh akal manusia. Satu hal yang membuat saya semakin yakin mengapa saya percaya bahwa Tuhan itu ada.
Bagi saya, memang tidak sangsi lagi bahwa tuhan itu mutlak adanya. Ada dzat yang berkuasa di alam semesta. Ada tuhan yang mengatur semua ini bisa terjadi. Tidak semua yang ada di dunia ini bisa terpecahkan oleh akal manusia. Manusialah yang harus berfikir untuk memecahkan otaknya bila terus berfikir siapakah tuhan dan percaya bahwa tuhan itu tidak ada.
